Saat Pers Mengawal Proses Demokrasi, Kita Pun Harus Mengkritisi Pers

[Unpad.ac.id, 18/04/2012] Peran pers di Indonesia dan era sekarang ini sudah semakin berat, selain harus memenuhi tanggung jawab terhadap publik berupa  informasi yang benar sehingga informasi itu dapat memberikan kebaikan bagi masyarakat, pers juga berkewajiban untuk mengawal proses demokrasi yang dibangun di Indonesia.

Para narasumber seminar “Peran Pers sebagai Pilar Demokrasi” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad (Foto: Indra Nugraha)*

Hal itu tersirat dalam pemaparan Ir. Zulfiani Lubis, Pemimpin Redaksi ANTV, yang bertindak sebagai Anggota Dewan Pers Nasional sekaligus pembicara dalam Seminar Nasional “Peran Pers sebagai Pilar Demokrasi” di Bale Santika Waras Tanginas Binekas, Unpad, Jatinangor, Rabu (18/04). Seminar ini sendiri merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan National Governance Day 2012 yang pada tahun ini diprakarsai oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad.

Selain sebagai ajang untuk menambah ilmu dan pengetahuan mengenai pemerintahan dan aspek dinamisnya, acara ini juga menjadi semacam ajang pertemuan bagi ratusan mahasiswa Pemerintahan seluruh Indonesia yang tergabung dalam Fokermapi (Forum Kerjasama Mahasiswa Pemerintahan Indonesia).

Lebih lanjut lagi, wanita yang dikenal banyak orang dengan sapaan Uni Lubis ini menyoroti bahwa fungsi pemerintahan yang terdiri dari eksekutif, legislatif, dan yudikatif harus dibarengi dengan pers sebagai pilar keempat sekaligus tonggak ampuh pengawal demokrasi. “Tanpa media, tanpa informasi, pemerintahan yang populer sekalipun hanya akan seperti lelucon.” ujarnya.

Selain Uni Lubis, hadir juga sebagai pembicara dalam seminar tersebut Dr. Chusnul Mar’iyah, Dosen sekaligus pakar Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, Budhiana Kartawijaya, Pemimpin Redaksi HU Pikiran Rakyat, Dadang Rahmat Hidayat, S.Sos., SH., M.Si., Ketua Komisioner KPI Pusat sekaligus dosen Ilmu Jurnalistik di Fikom Unpad, serta Helby, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2009 yang lebih banyak menyoroti tentang dunia pers kampus.

Orang-orang yang telah matang di dunia pers tersebut mengakui bahwa demokrasi di negeri ini sudah menjadi pilihan dan harga mati, hadirnya media atau pers sebagai alat kontrol dapat menjadi pendorong ke arah demokrasi yang lebih berkualitas. Namun, mereka juga tidak dapat menutup mata atas peran mereka yang belum terlalu maksimal dalam mendorong proses demokrasi. Tak dapat dipungkiri, kebebasan pers di negeri ini yang masih jauh dari harapan serta berbagai macam kepentingan dalam sebuah berita menjadi penghalang dalam proses demokrasi tersebut.

Mereka juga mengakui cukup banyak konstruksi yang dibangun oleh media dalam melihat suatu peristiwa hingga menjadi berita, dan publik dalam hal ini sebagai penerima harus mampu berpikir cerdas atas konstruksi peristiwa yang dibangun oleh media.

Di sisi lain, Dr. Chusnul Mar’iyah mengakui peran pers yang penting di alam demokrasi. Namun, ia juga tetap mengkritisi bagaimana kerja pers yang sangat mengagungkan rating, media sudah seharusnya dapat mendemokrasikan dirinya, dan pers harus mampu melakukan investigasi yang lebih baik lagi dalam kerjanya. Selain hal tersebut, ia juga mengajak publik untuk tetap menjadi pengawas bagi pers itu sendiri.  “Mari kita tetap mengkritisi media” ajaknya. *

sumber: http://www.unpad.ac.id/archives/54199

Leave a Reply